Harapan merupakan sebuah sifat yang selalu ada di dalam diri setiap manusia. Semua manusia selalu berharap dan selalu mengejar harapan itu. Begitu juga dengan diri ku yang terus berharap untuk sebuah kebaikan.
Harapan ini juga selalu dititpkan oleh orang tua kepada anaknya.Harapan agar cepat tamat kuliah, harapan cepat mendapatkan pekerjaan yang layak, dan harapan-harapan lainnya. Harapan dari orang tua ini sebenarnya adalah motivasi bagi sang anak untuk mencapainya.
Alangkah bahagianya orang tua kita bila harapan dari mereka dapat kita wujudkan. Walaupun sebenarnya,kebaikan dari harapan-harapan itu sang anaknya sendiri yang merasakannya.
Hanya sebuah kebanggaan yang didapat si Ayah dan si Ibu. Gelar, uang dan jabatan itu diemban sendiri oleh sang anak. Namun, betapa bahagianya sang anak bisa membahagiakan kedua orang tuanya.
Alangkah kecewanya jika ada anak yang mengingkari harapan-harapan dari kedua orang tuanya. Air mata penyesala tak akan berguna. Hanya penyesalan saja yang bisa dirasakan oleh si anak, ketika harapan itu tak bisa digapai.
Jangan pernah salahkan orang tua mu, ketika dia memberikan dan meminta mu untuk mewujudkan harapannya. Karena itu semua untuk kebahagianmu. Harapan-harapan yang orang tua mu berikan padamu telah dimulai sejak kita berada di dalam perut ibu kita.
Sang ibu berharap kelak ketika kita mampu melihat dunia kita bisa memberikan kebahagian kepada mereka.
Ibu dan ayah pun terus berharap ketika kita mulai bersekolah di TK. Mereka berharap kita dapat menjadi lebih pintar dan mengaplikasikan semua yang diajarkan oleh guru kita.
Ketika kita mulai naik menjadi seorang siswa Sekolah Dasar, harapan itu meningkat. Ayah dn ibu kita berharap agar kita menjadi juara kelas, dan menjadi kebanggaan bagi keluarga. Harapan ini terus diberikan mereka sampai kita menginjak Sekolah Menengah Atas.
Di akhir SMA, ayah dan ibu berharap agar kita mampu meluluskan sekolah dan melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas. Mereka terus memotivasi kita sehingga kita bisa meluluskan SMA dengan bangga. Itulah kebanggaan yang tak terkira dari kedua orang tua kita.
Ketika di universitas, mereka pun berharap agar kita menjadi salah satu mahasiswa yang berprestasi dan mampu mendapatkan beasiswa. Bahkan mereka juga berharap agar kita dapat menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu.
Hal ini diperuntukkan agar kita dapat pekerjaan yang layak. Sehingga mereka bisa bangga. Harapan itu pun tak berhenti hanya sampai disitu. Kedua orang tua kita terus berharap agar kita mendapatkan jodoh yang baik dan mampu menjaga kita, sehingga kita bisa hidup bahagia.
Harapan kedua orang tua terus berlanjut hanya untuk kebahagian kita. Mereka rela mengorbankan semuanya demi mewujudkan harapan mereka kepada sang Anak. Genggam terus harapan orang tua mu sampai engkau mampu membahagiakan dan membuat mereka bangga karena mu. Karena hanya itulah yang bisa diberikan oleh kita sebagai anak.
Read More..
Rabu, 05 Mei 2010
Kamis, 18 Maret 2010
Indonesia, Obama, dan Kemiskinan
Sudah lama tak menulis. Rasanya terlalu sibuk untuk meluangkan sedikit waktu ku untuk menulis. Banyak sekali yang ingin ku tulis, mulai dari apa yang kulihat sampai pada apa yang kudengar. Mulai dari kemenangan SBY untuk kedua kalinya sampai kedatangan Obama ke Indonesia yang kata beberapa media, Indonesia adalah kampung Obama. Sempat terlintas, kampung dari mana?
Ketika seorang teman, mengatakan Indonesia adalah kampung halaman Obama, aku jadi terus berpikir, dari mana pula orang banyak mengatakan kampung Obama Indonesia. Jika kita lihat biografi Presiden Amerika itu, kita akan tahu bahwa Obama tak pernah anggap Indonesia memberikan kesan terhadap Indonesia. Hanya beberapa tahun dia tinggal dan menetap di Indonesia.
Lagi pula, jika Obama menganggap Indonesia adalah kampungnya, maka dia tidak akan pernah memperlakukan negara ini seolah budak dan negara pemasok bagi negara yang kini dipimpinnya. Saya sadar, ketika saya menulis tentang ini saya akan banyak dikritik. Namun, saya juga ingin membuka pikiran teman-teman bahwa, Indonesia adalah sebuah negara makmur dan kaya. Semuanya ada di Indonesia. Kita bisa bangkit bukan karena Amerika, Obama atau siapa pun. Tapi karena kita saling menghormati dan bekerja sama. Bukan saling menjatuhkan.
Jika kita kembali di tahun 1980an, Indonesia merupakan salah satu negara maju. Indonesia dikenal mampu memberikan kontribusi besar bagi negara-negara di Asia Tenggara. Namun, kini semuanya hanya tinggal sejarah. Kini Indonesia seolah bergantung pada kebijakan dan perintah dari negara-negara super power.
Seorang teman mengatakan pada saya, Indonesia ini adalah negara aneh. sangat aneh sehingga banyak dari pejabat dan pengambil kebijakannya seolah tak acuh pada apa yang mereka lakukan. Beramai-ramai memperkaya diri, sehingga ketika uzur bisa menikmati hidup yang tenang dan bergelimangan harta.
Mengomentari hal-hal yang tak penting dan selalu ingin mencari perhatian. Mengeluh di depan media, membuat statement yang mengundang kontroversi, dan senang melihat rakyatnya hidup dalam kesengsaraan, kemiskinan. Inilah negara kita, negara yang selalu mengikuti arus tanpa ada pendirian.
Teman saya itu selalu mengatakan, Indonesia masih pantas dipimpin oleh sosok yang diktator. Dan saya pun setuju. Hal ini dapat kita lihat dari sejarah panjang negara kita. Mulai dari Bung Karno sampai pada Soeharto. Kedua tokoh ini merupakan tokoh yang sangat berperan pada pembangunan Indonesia.
Bung Karno, sosok pemimpin yang tak pernah mengeluh. Dia juga merupakan sosok pemimpin yang memiliki kharisma. Dia adalah pemimpin yang sampai saat ini dinantikan oleh rakyat Indonesia. Pejuang yang tak pernah kenal kata Menyerah.
Sampai ketika dia dihadapkan pada pilihan untuk mati pun, tak pernah terucap kata menyerah padanya. Dia memiliki pemikiran-pemikiran brilian, dan dia juga orang yang sangat low profile. Hanya karena orang-orang yang berada di sekelilingnya lah dia bisa salah langkah. Sehingga dia dianggap sebagai pengkhianat bangsa.
Kemudian Soeharto, merupakan sosok pemimpin yang tegas dan memiliki pendirian. Soeharto juga tak pernah malu mengakui kesalahannya. Hal ini ditunjukkannya ketika dia mengundurkan diri sebagai Presiden. Dia akui, jika permintaan rakyat agar dia mundur maka dia mundur.
Tak bisa kita pungkiri juga Soeharto telah membawa harum nama Indonesia di tingkat dunia. Dia menjadi kan Indoensia sebagai negara pengimpor besar dan mampu menanggulangi ketersedian bahan pokok untuk negara-negara di Asia Tenggara. Di masa ini Indonesia mengalami kejayaan.
Dua orang ini lah yang patut disebut pemimpin. Mereka selalu menangis ketika melihat rakyat dalam kesengsaraan. Namun, mereka tak pernah mengeluh kepada rakyatnya betapa letihnya mereka memimpin hampir dua ratus juta rakyat Indonesia.
Dua pemimpin ini selalu tersenyum di depan rakyatnya. Selalu memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Hal ini berbanding terbalik untuk pemimpin Indonesia saat ini. Jika pemimpin Indonesia saat ini adalah orang yang pantas memimpin Indonesia, tak seharusnya dia selalu menggunakan media untuk mengeluh.
Tak perlu juga dia mengungkit-ungkit apa saja yang telah dilakukannya untuk Indonesia. Tak perlu juga dia menganggap semua keputusan dan keluhannya membangkitkan citranya. Tak perlu juga dia mengurusi semua hal yang tak penting untuk rakyatnya.
Lebih baik dia berpikir, bagaimana Indonesia ini menjadi semakin baik, bukan mengurusi perkawinan orang, atau mengurusi goyang-goyang dangdut.
Ini lah gambaran burem negara kita. Sebagai rakyat yang selalu dibawah, kita harus menerima dan jika bisa kita berdoa agar pemimpin kita saat ini cepat sadar bahwa masih banyak lagi saudara kita yang hidup dalam ketiadaan. Read More..
Ketika seorang teman, mengatakan Indonesia adalah kampung halaman Obama, aku jadi terus berpikir, dari mana pula orang banyak mengatakan kampung Obama Indonesia. Jika kita lihat biografi Presiden Amerika itu, kita akan tahu bahwa Obama tak pernah anggap Indonesia memberikan kesan terhadap Indonesia. Hanya beberapa tahun dia tinggal dan menetap di Indonesia.
Lagi pula, jika Obama menganggap Indonesia adalah kampungnya, maka dia tidak akan pernah memperlakukan negara ini seolah budak dan negara pemasok bagi negara yang kini dipimpinnya. Saya sadar, ketika saya menulis tentang ini saya akan banyak dikritik. Namun, saya juga ingin membuka pikiran teman-teman bahwa, Indonesia adalah sebuah negara makmur dan kaya. Semuanya ada di Indonesia. Kita bisa bangkit bukan karena Amerika, Obama atau siapa pun. Tapi karena kita saling menghormati dan bekerja sama. Bukan saling menjatuhkan.
Jika kita kembali di tahun 1980an, Indonesia merupakan salah satu negara maju. Indonesia dikenal mampu memberikan kontribusi besar bagi negara-negara di Asia Tenggara. Namun, kini semuanya hanya tinggal sejarah. Kini Indonesia seolah bergantung pada kebijakan dan perintah dari negara-negara super power.
Seorang teman mengatakan pada saya, Indonesia ini adalah negara aneh. sangat aneh sehingga banyak dari pejabat dan pengambil kebijakannya seolah tak acuh pada apa yang mereka lakukan. Beramai-ramai memperkaya diri, sehingga ketika uzur bisa menikmati hidup yang tenang dan bergelimangan harta.
Mengomentari hal-hal yang tak penting dan selalu ingin mencari perhatian. Mengeluh di depan media, membuat statement yang mengundang kontroversi, dan senang melihat rakyatnya hidup dalam kesengsaraan, kemiskinan. Inilah negara kita, negara yang selalu mengikuti arus tanpa ada pendirian.
Teman saya itu selalu mengatakan, Indonesia masih pantas dipimpin oleh sosok yang diktator. Dan saya pun setuju. Hal ini dapat kita lihat dari sejarah panjang negara kita. Mulai dari Bung Karno sampai pada Soeharto. Kedua tokoh ini merupakan tokoh yang sangat berperan pada pembangunan Indonesia.
Bung Karno, sosok pemimpin yang tak pernah mengeluh. Dia juga merupakan sosok pemimpin yang memiliki kharisma. Dia adalah pemimpin yang sampai saat ini dinantikan oleh rakyat Indonesia. Pejuang yang tak pernah kenal kata Menyerah.
Sampai ketika dia dihadapkan pada pilihan untuk mati pun, tak pernah terucap kata menyerah padanya. Dia memiliki pemikiran-pemikiran brilian, dan dia juga orang yang sangat low profile. Hanya karena orang-orang yang berada di sekelilingnya lah dia bisa salah langkah. Sehingga dia dianggap sebagai pengkhianat bangsa.
Kemudian Soeharto, merupakan sosok pemimpin yang tegas dan memiliki pendirian. Soeharto juga tak pernah malu mengakui kesalahannya. Hal ini ditunjukkannya ketika dia mengundurkan diri sebagai Presiden. Dia akui, jika permintaan rakyat agar dia mundur maka dia mundur.
Tak bisa kita pungkiri juga Soeharto telah membawa harum nama Indonesia di tingkat dunia. Dia menjadi kan Indoensia sebagai negara pengimpor besar dan mampu menanggulangi ketersedian bahan pokok untuk negara-negara di Asia Tenggara. Di masa ini Indonesia mengalami kejayaan.
Dua orang ini lah yang patut disebut pemimpin. Mereka selalu menangis ketika melihat rakyat dalam kesengsaraan. Namun, mereka tak pernah mengeluh kepada rakyatnya betapa letihnya mereka memimpin hampir dua ratus juta rakyat Indonesia.
Dua pemimpin ini selalu tersenyum di depan rakyatnya. Selalu memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Hal ini berbanding terbalik untuk pemimpin Indonesia saat ini. Jika pemimpin Indonesia saat ini adalah orang yang pantas memimpin Indonesia, tak seharusnya dia selalu menggunakan media untuk mengeluh.
Tak perlu juga dia mengungkit-ungkit apa saja yang telah dilakukannya untuk Indonesia. Tak perlu juga dia menganggap semua keputusan dan keluhannya membangkitkan citranya. Tak perlu juga dia mengurusi semua hal yang tak penting untuk rakyatnya.
Lebih baik dia berpikir, bagaimana Indonesia ini menjadi semakin baik, bukan mengurusi perkawinan orang, atau mengurusi goyang-goyang dangdut.
Ini lah gambaran burem negara kita. Sebagai rakyat yang selalu dibawah, kita harus menerima dan jika bisa kita berdoa agar pemimpin kita saat ini cepat sadar bahwa masih banyak lagi saudara kita yang hidup dalam ketiadaan. Read More..
Sabtu, 20 Juni 2009
Ketika SBY Harus Berjuang Sendiri
Masih jelas teringat ketika 2004, SBY yang menjadi Menteri Koordinator Politik dan Pertahanan Keamanan. Dia mengundurkan diri sebagai menteri dan maju sebagai calon Presiden yang didukung oleh Partai Demokrat. Namun, kini SBY sedang berada di titik akhir perjalanannya sebagai seorang presiden.
Tahun 2004 yang lalu, merupakan masa kejayaan sang Jendral bintang empat ini. Bersama JK yang membelot dari Partai Golkar, SBY maju dalam Pemilu Presiden tahun 2004. Sungguh di luar dugaan, SBY dan JK mampu maju dalam putaran kedua bersama Megawati-Hasyim. Mengalahkan pasangan Amien Rais-Siswono Yudohusodo, dan Wiranto-Solahuddin.
Pertarungan pada pemilu presiden 2004 yang lalu merupakan sebuah pertarungan yang sungguh menakjubkan dimana banyak partai yang pecah dalam memberi dukungan. Hampir sama dengan Pemilu tahun ini yang akan diadakan 8 Juli nanti. Kembali SBY maju sebagai presiden, namun tanpa seorang JK disampingnya. Karena JK juga maju sebagai calon presiden dari Partai Golkar.
Tampaknya SBY dengan yakin maju sebagai Presiden dari Partai Demokrat yang didukung beberapa partai lainnya. SBY memang pantas yakin akan kemenangannya, bila dilihat hasil pemilu legislatif kemarin, dari 33 Propinsi di Indonesia Partai Demokrat mampu memenangkannya sebesar 50%.
Contoh yang sangat dekat, lihat saja Propinsi Sumut. Di tingkat DPRD Sumut saja, anggota legislatif terpilih dari partai berlambang burung Rajawali ini ada 28 orang. Itulah adalah sebuah keberhasilan dari partai bentukan SBY. Dengan kemenangan ini, tampaknya telah mencontreng muka pemimpin-pemimpin partai besar kolotan lainnya.
Kemenangan ini juga sempat membuat JK harus kepanasan. Kritikan dari internal partai Golkar menyerangnya. Dia dianggap tak mampu memimpin Partai Berlambang Pohon Beringin ini. Drastis, memang penurunan partai yang identik dengan warna kuning ini. Bila dilihat pada pemilu 2004 yang lalu, partai ini mampu meraih kursi pertama. Namun saat ini partai ini hanya mampu menduduki urutan ketiga.
Dengan kemenangan inilah SBY bertindak untuk tidak memilih kader partai warna kuning ini. SBY malah memilih orang yang tidak terkait dalam perpolitikan partai. Nama Boediono pun disebutkan oleh tim sembilan bentukan SBY demi memilih wakilnya. Namun, bukan dukungan yang didapat SBY, tapi ribuan kritikan datang ke SBY. Para partai pendukung SBY menganggap SBY salah memilih Boediono. Memang nama Boediono sama sekali tak dikenal. Walaupun dia menjabat Gubernur Bank Indonesia, tapi tak begitu akrab dikenal masyarakat. Ini semua dikarenakan Boediono tak pernah berbuat untuk rakyat. Maka itu dia tidak dikenal.
Tapi SBY tetap pada pendiriannya. Dia yakin dengan pilhan tim sembilan dan dirinya. Dia juga yakin Boediono akan mampu membantunya dalam berjuang memperjuangkan kepentingan masyarakat. Tapi sampai saat ini bisa kita nilai, SBY berjuang sendiri. Tak ada perjuangan dari seorang Boediono.
SBY pun tampaknya pasrah dengan kenputusannya. Saat ini SBY sadar, akan kehilangan pendukungnya, maka SBY melakukan manuver-manuver menyerang lawan-lawannya. Bentuk perlawanan yang seharusnya tidak perlu dilakukannya. Caranya, tak mau bersenda gurau dengan JK yang statusnya masih sebagai wakil presiden ini sebaliknya menguntungkan JK.
SBY tak ingat, ketika dia mengundurkan diri dari kabinet pimpinan Megawati. Dia menjadi korban kasihan dari masyarakat. Dia teraniaya oleh sikap Megawati yang mencampakkannya. Dan kali ini SBY juga menghadapi karma seperti itu. Di saat JK juga maju menjadi lawannya dalam Pemilu Pilpres, maka JK akan menjadi seorang yang teraniaya oleh sikap SBY di kampaye.
Maka itu SBY akan berusaha berjuang sendiri membangun dan membuktikan kinerjanya selama 5 tahun ini. Apakah dia belum sadar, untuk membangun negeri ini dia butuh orang lain. Dan apakah dia tidak sadar selama 5 tahun ini, siapa yang menjadi pembela sejatinya, kalau bukan JK, bukan Bu Ani Yudhoyono.
Seharusnya sebagai seorang negarawan yang bijak, SBY harus mampu bersikap sewajarnya pada JK. Berjiwa besarlah pak SBY. Tataplah masa depan mu. Bisa jadi ini adalah akhir dari perjuanganmu yang sendiri itu. Read More..
Tahun 2004 yang lalu, merupakan masa kejayaan sang Jendral bintang empat ini. Bersama JK yang membelot dari Partai Golkar, SBY maju dalam Pemilu Presiden tahun 2004. Sungguh di luar dugaan, SBY dan JK mampu maju dalam putaran kedua bersama Megawati-Hasyim. Mengalahkan pasangan Amien Rais-Siswono Yudohusodo, dan Wiranto-Solahuddin.
Pertarungan pada pemilu presiden 2004 yang lalu merupakan sebuah pertarungan yang sungguh menakjubkan dimana banyak partai yang pecah dalam memberi dukungan. Hampir sama dengan Pemilu tahun ini yang akan diadakan 8 Juli nanti. Kembali SBY maju sebagai presiden, namun tanpa seorang JK disampingnya. Karena JK juga maju sebagai calon presiden dari Partai Golkar.
Tampaknya SBY dengan yakin maju sebagai Presiden dari Partai Demokrat yang didukung beberapa partai lainnya. SBY memang pantas yakin akan kemenangannya, bila dilihat hasil pemilu legislatif kemarin, dari 33 Propinsi di Indonesia Partai Demokrat mampu memenangkannya sebesar 50%.
Contoh yang sangat dekat, lihat saja Propinsi Sumut. Di tingkat DPRD Sumut saja, anggota legislatif terpilih dari partai berlambang burung Rajawali ini ada 28 orang. Itulah adalah sebuah keberhasilan dari partai bentukan SBY. Dengan kemenangan ini, tampaknya telah mencontreng muka pemimpin-pemimpin partai besar kolotan lainnya.
Kemenangan ini juga sempat membuat JK harus kepanasan. Kritikan dari internal partai Golkar menyerangnya. Dia dianggap tak mampu memimpin Partai Berlambang Pohon Beringin ini. Drastis, memang penurunan partai yang identik dengan warna kuning ini. Bila dilihat pada pemilu 2004 yang lalu, partai ini mampu meraih kursi pertama. Namun saat ini partai ini hanya mampu menduduki urutan ketiga.
Dengan kemenangan inilah SBY bertindak untuk tidak memilih kader partai warna kuning ini. SBY malah memilih orang yang tidak terkait dalam perpolitikan partai. Nama Boediono pun disebutkan oleh tim sembilan bentukan SBY demi memilih wakilnya. Namun, bukan dukungan yang didapat SBY, tapi ribuan kritikan datang ke SBY. Para partai pendukung SBY menganggap SBY salah memilih Boediono. Memang nama Boediono sama sekali tak dikenal. Walaupun dia menjabat Gubernur Bank Indonesia, tapi tak begitu akrab dikenal masyarakat. Ini semua dikarenakan Boediono tak pernah berbuat untuk rakyat. Maka itu dia tidak dikenal.
Tapi SBY tetap pada pendiriannya. Dia yakin dengan pilhan tim sembilan dan dirinya. Dia juga yakin Boediono akan mampu membantunya dalam berjuang memperjuangkan kepentingan masyarakat. Tapi sampai saat ini bisa kita nilai, SBY berjuang sendiri. Tak ada perjuangan dari seorang Boediono.
SBY pun tampaknya pasrah dengan kenputusannya. Saat ini SBY sadar, akan kehilangan pendukungnya, maka SBY melakukan manuver-manuver menyerang lawan-lawannya. Bentuk perlawanan yang seharusnya tidak perlu dilakukannya. Caranya, tak mau bersenda gurau dengan JK yang statusnya masih sebagai wakil presiden ini sebaliknya menguntungkan JK.
SBY tak ingat, ketika dia mengundurkan diri dari kabinet pimpinan Megawati. Dia menjadi korban kasihan dari masyarakat. Dia teraniaya oleh sikap Megawati yang mencampakkannya. Dan kali ini SBY juga menghadapi karma seperti itu. Di saat JK juga maju menjadi lawannya dalam Pemilu Pilpres, maka JK akan menjadi seorang yang teraniaya oleh sikap SBY di kampaye.
Maka itu SBY akan berusaha berjuang sendiri membangun dan membuktikan kinerjanya selama 5 tahun ini. Apakah dia belum sadar, untuk membangun negeri ini dia butuh orang lain. Dan apakah dia tidak sadar selama 5 tahun ini, siapa yang menjadi pembela sejatinya, kalau bukan JK, bukan Bu Ani Yudhoyono.
Seharusnya sebagai seorang negarawan yang bijak, SBY harus mampu bersikap sewajarnya pada JK. Berjiwa besarlah pak SBY. Tataplah masa depan mu. Bisa jadi ini adalah akhir dari perjuanganmu yang sendiri itu. Read More..
Rabu, 04 Maret 2009
Wanita Amazone
Rabu dini hari, aku menghadiri acara perayaan ulang tahun Retro. Waw, keren setelah lama tidak masuk ke tempat yang satu ini aku terperangah melihat, desain, dan konsep Retro yang baru. Desain dengan konsep sangat eksklusif dan modren ini, jadi teringat dengan salah satu diskotik di Rusia yang pernah aku lihat di Internet.
Tapi bukan konsep dan desain Retro yang ingin aku bicarakan kali ini. Suasana Retro yang ramai dan padat ini memaksa aku untuk merenung. Merenungi tentang sebuah arti ke glamouran di dunia yang serba fana ini. Wanita-wanita berbaju yang teramat seksi hilir mudik di depanku. Terasa, nafsuku naik dibuatnya. Namun, kembali aku merenungi, sungguh gila pemandangan di depn mataku kali ini.
Tak terasa, Maret ini genap 21 tahun umur ku. Semakin banyak yang kulihat di dunia semakin banyak pula seharusnya kita merenung. Aku tak melihat sebuah kesedihan dari wajah pengunjung-pengunjung Retro malam itu. Memang malam itu adalah malam yang gembira.
Tapi apakah para pengunjung itu tak melihat, didepan gedung Capital Building tempat Retro menumpang banyak sekali tunawisma yang tidur di jalan dengan memakai baju lengkap tetapi tak pernah berganti. Hitam lecek baju yang selalu dipakai tuna wisma yang bekerja sebagai pemulung, pengemis dan pekerjaan hina lainnya.
Sangat berbanding terbalik dengan pakaian yang dipakai wanita-wanita di Retro. Walaupun menggunakan pakaian tidak lengkap, tetapi mereka beruang banyak. Mereka mampu menghabiskan jutaan rupiah untuk tertawa ataupun untuk bergoyang. Padahal aku juga hanya menghabiskan Rp 20.000,- untuk bergoyang.
Memang zaman ini sudah sangat gila. Yang kaya maunya serba terbuka, tetapi jika diminta buka malah ketakutan. Sedangkan si Miskin, dengan serba kemampuannya hanya bisa menutupi sebagian tubuhnya saja tetap bersikukuh menutup semua tubuhnya.
Akankah kita sadar, bagaimana cara pemerintah kita melihat ini semua. Siapa bilang jumlah orang miskin di Indonesia berkurang? BPS sebagai lembaga statistik hanya melakukan riset di pinggiran sungai saja, melihat rumah-rumah kumuhnya. Tetapi tak pernah dan tak berani melakukan riset di komplek-komplek Mewah.
Melihat itu semua, aku jadi teringat perkataan beberapa temanku. Misalnya saja Bang Fuad, mahasiswa Abadi di UMSU ini selalu mengatakan, wanita-wanita pengunjung Retro itu adalah wanita keturunan Amazone. Dan dia menilai kemiskinan itu bukan dari takaran berapa juta gajimu sebulan. Ataupun berapa juta yang sudah kamu keluarkan dalam satu malam untuk ketawa? Tetapi takaran miskin baginya ialah apakah kamu telah bersedekah atau belum. Hebat, walaupun dilihat dari fisiknya dia tak berbeda jauh dengan ku tetapi dia bisa melihat dari hati.
Kemudian, Bang Aulia andre. Salah satu dosen Unimed ini aku jadikan guruku dalam bidang Jurnalistik dan sosial. Dengan pengalaman yang dipunyanya, dia selalu merasa belum apa-apa. Namun, dalam memandang dan memecahkan sesuatu dia sangat hebat. Dan selama aku mengenalnya, dia adalah lelaki yang sangat perpeksionis. Dia juga tidak hobby menghabiskan uang hanya untuk mencari tertawa dan bergoyang di sebuah tempat hiburan malam.
Oh, dunia. Selayaknyalah wanita-wanita Amazone itu disadarkan. Agar mereka bisa mengakku diri mereka kaya. Read More..
Tapi bukan konsep dan desain Retro yang ingin aku bicarakan kali ini. Suasana Retro yang ramai dan padat ini memaksa aku untuk merenung. Merenungi tentang sebuah arti ke glamouran di dunia yang serba fana ini. Wanita-wanita berbaju yang teramat seksi hilir mudik di depanku. Terasa, nafsuku naik dibuatnya. Namun, kembali aku merenungi, sungguh gila pemandangan di depn mataku kali ini.
Tak terasa, Maret ini genap 21 tahun umur ku. Semakin banyak yang kulihat di dunia semakin banyak pula seharusnya kita merenung. Aku tak melihat sebuah kesedihan dari wajah pengunjung-pengunjung Retro malam itu. Memang malam itu adalah malam yang gembira.
Tapi apakah para pengunjung itu tak melihat, didepan gedung Capital Building tempat Retro menumpang banyak sekali tunawisma yang tidur di jalan dengan memakai baju lengkap tetapi tak pernah berganti. Hitam lecek baju yang selalu dipakai tuna wisma yang bekerja sebagai pemulung, pengemis dan pekerjaan hina lainnya.
Sangat berbanding terbalik dengan pakaian yang dipakai wanita-wanita di Retro. Walaupun menggunakan pakaian tidak lengkap, tetapi mereka beruang banyak. Mereka mampu menghabiskan jutaan rupiah untuk tertawa ataupun untuk bergoyang. Padahal aku juga hanya menghabiskan Rp 20.000,- untuk bergoyang.
Memang zaman ini sudah sangat gila. Yang kaya maunya serba terbuka, tetapi jika diminta buka malah ketakutan. Sedangkan si Miskin, dengan serba kemampuannya hanya bisa menutupi sebagian tubuhnya saja tetap bersikukuh menutup semua tubuhnya.
Akankah kita sadar, bagaimana cara pemerintah kita melihat ini semua. Siapa bilang jumlah orang miskin di Indonesia berkurang? BPS sebagai lembaga statistik hanya melakukan riset di pinggiran sungai saja, melihat rumah-rumah kumuhnya. Tetapi tak pernah dan tak berani melakukan riset di komplek-komplek Mewah.
Melihat itu semua, aku jadi teringat perkataan beberapa temanku. Misalnya saja Bang Fuad, mahasiswa Abadi di UMSU ini selalu mengatakan, wanita-wanita pengunjung Retro itu adalah wanita keturunan Amazone. Dan dia menilai kemiskinan itu bukan dari takaran berapa juta gajimu sebulan. Ataupun berapa juta yang sudah kamu keluarkan dalam satu malam untuk ketawa? Tetapi takaran miskin baginya ialah apakah kamu telah bersedekah atau belum. Hebat, walaupun dilihat dari fisiknya dia tak berbeda jauh dengan ku tetapi dia bisa melihat dari hati.
Kemudian, Bang Aulia andre. Salah satu dosen Unimed ini aku jadikan guruku dalam bidang Jurnalistik dan sosial. Dengan pengalaman yang dipunyanya, dia selalu merasa belum apa-apa. Namun, dalam memandang dan memecahkan sesuatu dia sangat hebat. Dan selama aku mengenalnya, dia adalah lelaki yang sangat perpeksionis. Dia juga tidak hobby menghabiskan uang hanya untuk mencari tertawa dan bergoyang di sebuah tempat hiburan malam.
Oh, dunia. Selayaknyalah wanita-wanita Amazone itu disadarkan. Agar mereka bisa mengakku diri mereka kaya. Read More..
Rabu, 10 Desember 2008
Hari-hari Terkahir Andalas
Harian Andalas, sebuah nama yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Nama yang selalu memberikan yang terbaik untuk kami semua. Nama yang menggambarkan sebuah pulau yang kaya akan sumber daya alamnya. Dan nama yang mengajarkan banyak tentang arti kegagalan padaku.
Tepat, 8 Nopember 2008 harian andalas tempat beberapa jurnalis muda bekerja ditutup. Sungguh sayang, tetapi apa yang bisa kami lakukan. Emosi beberapa pemegang saham terhadap kebodohan pemimpin Perusahaan ini, berimbas pada kami para pekerjanya. Sedih, dan haru akan mejadi sebuah dilema dalam kehidupan. Tak akan ada lagi kenyamanan dan kecerian yang dapat diingat.
Media yang beru berumur tiga tahun ini bagaikan, sebuah media besar nasional. Intrik, dan dan segalanya bagaikan sebuah perusahaan media dengan oplah sampai 10.000 eks. Padahal hanya 1.500 eks saja tetapi intriknya bisa membuat kami para jurnalis pusing.
Andalas kini tinggal kenangan bagiku, bagi kami semua, dan aku berharap bagi warga Sumut. Media itu kini tak tampak lagi di peredaran. Bagaikan ditelan bumi. 5 bulan aku telah menghabiskan waktu dan segalanya di Media itu, tetapi aku merasa tidak sia-sia.
Pelajaran Jurnalistik yang aku dapatkan di bangku kuliah telah aku terapkan di Media yang sok Gede ini. Telah banyak yang aku pelajari, persahabatan, kasih sayang, dan pengorbanan itu semua ada di Andalas. Tetapi, mengapa begitu aku merasa enjoy bersama Andalas, itu semua harus sirna.
Hari-hari terakhir bersama Andalas bagaikan sebuah perang yang tak akan pernah berakhir. Canda tawa yang dikeluarkan hanya menutupi kesedihan yang tak bisa dikeluarkan. Sulit memang akan kehilangan sahabat bahkan keluarga. Read More..
Tepat, 8 Nopember 2008 harian andalas tempat beberapa jurnalis muda bekerja ditutup. Sungguh sayang, tetapi apa yang bisa kami lakukan. Emosi beberapa pemegang saham terhadap kebodohan pemimpin Perusahaan ini, berimbas pada kami para pekerjanya. Sedih, dan haru akan mejadi sebuah dilema dalam kehidupan. Tak akan ada lagi kenyamanan dan kecerian yang dapat diingat.
Media yang beru berumur tiga tahun ini bagaikan, sebuah media besar nasional. Intrik, dan dan segalanya bagaikan sebuah perusahaan media dengan oplah sampai 10.000 eks. Padahal hanya 1.500 eks saja tetapi intriknya bisa membuat kami para jurnalis pusing.
Andalas kini tinggal kenangan bagiku, bagi kami semua, dan aku berharap bagi warga Sumut. Media itu kini tak tampak lagi di peredaran. Bagaikan ditelan bumi. 5 bulan aku telah menghabiskan waktu dan segalanya di Media itu, tetapi aku merasa tidak sia-sia.
Pelajaran Jurnalistik yang aku dapatkan di bangku kuliah telah aku terapkan di Media yang sok Gede ini. Telah banyak yang aku pelajari, persahabatan, kasih sayang, dan pengorbanan itu semua ada di Andalas. Tetapi, mengapa begitu aku merasa enjoy bersama Andalas, itu semua harus sirna.
Hari-hari terakhir bersama Andalas bagaikan sebuah perang yang tak akan pernah berakhir. Canda tawa yang dikeluarkan hanya menutupi kesedihan yang tak bisa dikeluarkan. Sulit memang akan kehilangan sahabat bahkan keluarga. Read More..
Langgan:
Entri (Atom)
